Big Think, Love & Success!!

.

Di Yogyakarta aku Tinggal

Kota Yogyakarta, kota pusat pendidikan di pulau jawa bagian tengah. Menyimpan berjuta kenangan bagi siapapun yang pernah belajar disini...

Berjuta Pesona

Yogyakarta dan pesona nya memikat mata warga dunia. Sudah siapkah menjadi bagiannya?...

Kendalikan Kecepatanmu

Persiapkan diri untuk melaju ikuti perkembangan dunia..

Harmoni dan Kesembangan

Hidup seimbang ciptakan harmonisasi diri..

Keindahan

Keindahan itu adalah impian setiap insan....Keindahan Hidup dalam menuju keabadian

Kamis, 04 Agustus 2011

Harga Diri (?)

"Adapun manusia apabila Tuhan-Nya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” [ QS. Al-Fajr ayat 15]
Harga diri seperti cahaya...

Adalah sudah menjadi fitrah kalau setiap manusia sangat merindukan penghargaaan dan penghormatan dari sesamanya. Orang-orang pun selalu berikhtiar dengan caranya sendiri untuk mendapatkannya.

Ada yang menganggap harta sebagai simbol penghargaan, sehingga orang pun berjuang keras untuk meraup dan mengumpulkannya dengan berbagai cara.

Ada yang menganggap pangkat dan kedudukanlah yang dapat meningkatkan derajat kemuliaan, sehingga berupayalah ia untuk meraih pangkat dan kedudukan tersebut setinggi-tingginya. Ada pula yang menganggap justru penampilan dan rupalah yang bisa membuat orang menghargaianya. Karenanya, tidak usah heran kalau begitu banyak orang yang berletih-letih, berjam-jam untuk membuat tubuhnya menjadi indah.

Akan tetapi, kenyataan membuktikan betapa banyak orang memiliki harta melimpah, kedudukan yang tinggi, gelar berderet, dan penampilan yang luar biasa, toh tetap saja tidak memiliki harga. Bahkan tidak jarang semua yang dianggap akan mendatangkan penghargaan terhadap dirinya, malah sebaliknya membuahkan cibiran dan hinaan orang karena tercemari oleh sikap atau perbuatannya sendiri.

Mengapa bisa terjadi demikian ? salah satu penyebabnya adalah karena terkadang banyak orang yang sibuk mencari penghargaan dari orang lain melalui berbagai atribut keduniaan, tetapi melupakan sesuatu yang justru sangat mahal nilainya yakni harga diri. Sebanyak apa pun atribut duniawi yang dia miliki, tetapi kalu tidak memiliki harga diri, maka tidak usah heran ia tidak akan pernah memiliki harga yang sesungguhnya.

Karena, harta, gelar, pangkat, kedudukan, dan penampilan hanyalah sekedar bungkus, sedangkan harga diri adalah isi. Sayangnya, orang justru sering mudah terjebak oleh bungkus belaka, sehingga menganggap semua itu adalah kemuliaan yang diberikan Alloh untuknya.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku.”[QS. Al-Fajr ayat 15]         

Padahal demi Alloh orang yang berpikiran semacam itu adalah benar-benar terkecoh dan tertipu oleh fatamorgana dunia. Karena, siapapun yang meyakini atribut keduniaan sebagai satu-satunya jalan datangnya kemuliaan dan penghargaan dari orang lain, maka setiap saat dengan mudah ia bisa terpelanting ke jurang kehinaan dan benar-benar tidak akan lagi punya harga.

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman :

……...“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bewntuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” [QS.At-Tiin ayat 4-5]


Cinta Dunia    


Mengapa sebagian besar orang ternyata lebih merasa memiliki harga dengan memperindah “bungkus” daripada berusaha menggali, memiliki dan mempertahankan “isi”? Padahal justru “isi” itulah, harga diri itulah, yang justru bisa menjadi jalan datangnya kemuliaan dan penghargaan dari sesama.

Jawabnya, ternyata karena kebanyakan manusia berkecenderungan memiliki sifat hubbud dunya (cinta dunia). Padahal justru sifat inilah yang menjadi factor pailing potensial mengakibatkan seseorang rontok wibawa dn kemuliaannya walaupun ia punya segala-gala.

Betapa tidak ! semakin seseorang mencintai dunia dan menganggap sebagai jalan datangnya penghargaan bagi dirinya, dia akan semakin terperosok ke dalam sisi kehidupan yang pasti menyengsarakan lahir batinnya. Mengapa ? karena, di dalam tubuh manusia itu terdapat qolbu, satu perangkat yang tidak akan pernah terpuaskan oleh dunia berikut isinya.

Oleh sebab itu, meskipun orang telah memiliki berbagai apa pun di dunia ini, kalau qolbunya tidak pernah mwengenal Alloh Dzat pemilik alam semesta ini, maka ia tidak akan pernah memiliki, apalagi dapat menikmati hakikat kemuliaan diri dan ketenteraman dalam hidup. 


Materialistis adalah sala sati penyakit yang melanda tidak saja orang-orang non muslim, tetapi juga sebagian besar kaum muslimin. Bagi orang-orang yang dilanda penyakit ini, hal yang dipikirkan dan dicarinya terus menerus siang malam hanyalah segala sesuatu yang bersifat duniawi. Ia serta-merta akan merasa bangga ketika dunia datang kepadanya. Sehingga menjadi sibuk pamer dan sibuk sombong meremehkan orang lain. Sebaliknya ia akan sangat terluka sedih luar biasa, terpuruk dan terpukul manakala Alloh mengambil kembali dunia itu dari genggamannya.


Sama jeleknya dengan orang yang sombong karena ada dan menjadi minder karena tiada. Kalau orang datang dengan penampilan yang baik secara duniawi, kadang-kadang penghaormatan pun serta merta kita berikan kepadanya. Padahal kita tidak tahu asesoris harta yang dimilikinya itu datangnya darimana. Kita memang mudah terjebak menghargai orang hanya dari status duniawi. Jarang kita berani menelusuri status kepribadiannya.
Barangsiapa yang mulai terperosok oleh kerinduan dipuji karena dunia, maka akan terkuras habis waktunya digunakan untuk berpikir dan bekerja banting tulang demi mendapatkannya, tanpa ia sendiri bisa menikmatinya. Persis seperti seorang anak kecil yang merengek-rengek kepasda orang tuanya minta dibelikan petasan. Ketika uang didapatkan ia pin lari ke warung. Terengah-engah nafasnya, bersimbah keringatnya.


Petasan yang di dambakannya pun didapatkan, sehingga dengan kegirangan ia kembali berlari pulang. Saking gembira hatinya, ia lengah tidak lagi melihat jalan yang ditapaki, sehingga kaki pun terantuk batu dan jatuh terjerembablah ia. Tubuhnya terluka dan mengeluarkan darah, iapun meringis menahan kesakitan, namun petasan tetap tergenggam erat di tangan. Akan tetapi masya Alloh, ketika petasan tersebut hendak disulut, ia malah memberikan kepada kakanya yang lebih besar. “ kak, tolong bakarkan petasan ini.” Sementar ia sendiri malah menutup telinganya rapat-rapat.

Petasan meletus tanpa ia nikmati. Orang lainlah yang menikmatinya, sedangkan dirinya hanya mendapatkan keletihan dan luka di badan. Demikianlah ciri khas ahli dunia. Ia akan sibuk sekali mencari dan mencari segala harta, gelar pangkat dan kedudukan, sampai-sampai tersiksa sendiri lahir batinnya, padahal ia sendiri tidak pernah bisa menikmati seutuhnya.        


Siang malam mengejar kekayaan, lupa membina istri, alpa mendidik anak-anak, apalagi berpikir untuk bekal kepulangan ke akhirat kelak. Segala cara dihalalkan harta pun melimpah ruah. Berjuta atau bahkan bermilyar rupiah tabungan tersimpan di bank. Namun sebanyak apa pun uang yang ditimbunnya sungguh ia tidak pernah memegangnya karena justru pihak bank lah yang menikmatinya. Villa pun dibangun di lereng bukit, namun berapa hari dlam seminggu ia dapat beristirahat di dalamnya ? kenyataan yang ada malah sejumlah pembantunya lah, yang ditugasi menjaga dan merawatnya siang malam, yang enak-enak menikmati nyamannya villa itu.

Demi kenyamanan pergi dan pulang kantor atau bepergian kemanapun yang diinginkan, mobil mewah berharga ratusan juta rupiah pun ia usahakan. Cobalah kita tanya, berapa menit kah dalam sehari ia sempat menikmati kursi empuknya. Kenyataannya justru sang supirlah yang enak-enak tiduran di kursi empuk sedan sementara menunggu majikan keluar dari tempat kerjaan. Akan tetapi, sang majikan yang setiap hari dipusingkan oleh berbagai urusan kantor, pikirannya  yang selalu tegang niscaya akan mudah marah meradang, sehinggga sang supir bisa kena dampratan, pembantu di rumah pun kerap kali kena sasaran kemarahan.

Di depan majikan supir dan pembantu itu akan tunduk ketakutan, tatapi di belakang mereka kerap bersungut-sungut dan menyumpah serapahinya habis-habisan. Oleh bawahannya di kantor ia sangat dihormati. Oleh relasi dan rekannya ia disanjung dan dipuji. Akan tetapi, masya Alloh, harga diri wibawa dan kemuliaannya justru jatuh terpuruk dimata supir dan pembantunya sendiri karena ia telah terjebak oleh harta, gelar, pangkat, dan kedudukan yang disandangnya, yang ia sangka sebagai sumber segala kemuliaan hidupnya. Demi Alloh Islam mengajarkan kita harus berikhtiar keras di dunia ini demi harga diri dan keluarga memiliki bekal hidup yang cukup. Akan tetapi untuk mendapatkannya kita harus memakai adab, sehingga harga diri kita tidak rontok karenanya.

Bagaimana caranya agar kita dapat memiliki dunia seraya tetap dapat mempertahankan dan memelihara satu-satunya “harta” yang tak ternilai harganya ini ? kuncinya tiada lain adalah bahwa kita harus memiliki dunia ini tanpa harus tergelincir menjadi ahli dunia, menjadi orang yang cinta dunia. Milikilah harta, gelar, pangkat, dan kedudukan untuk bekal hidup di dunia ini secukupnya saja, tetapi curahkanlah segala yang telah didapatkan itu sebanyak-banyaknya untuk beribadah kepada Alloh ‘Azza wa jalla, Dzat pemilik segala kemuliaan.

Sungguh, “ Barangsiapa yang menjadikan dunia ini (pusat) cita-citanya, niscaya Alloh akan mencerai beraikan urusannya dan menjadikan kepapaan menghantui dirinya serta tidak akan datang kepadanya keduniaan, kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan. Akan tetapi, barangsiapa yang menjadikan akhirat itu niatnya, niscaya Alloh menghimpunkan segala urusan serta menciptakan kepuasan dalam hatinya sementara dunia datang tunduk kepadanya (Al-Hadits). Wallahu ‘alam

Rabu, 03 Agustus 2011

Menghindari Sikap Emosional

KH. Abdullah Gymnastiar 

Emosional, bisa sangat mengganggu...


Saudaraku yang baik, mungkin saja ada kepuasaan tersendiri ketika suatu tindakan dilakukan secara emosional. Tapi kepuasaan itu belum tentu tepat, karena bisa jadi kepuasaan itu adalah kepuasaan yang tidak baik. Misalkan saja orang tua yang berbeda pendapat dengan anaknya ketika menentukan calon pendamping hidupnya. Sang anak bersikukuh untuk menentukan pilihannya sendiri, sementara orang tua pun tetap berpegang teguh untuk menolak pilihan sang anak.Dengan emosional orang tua anak tersebut tidak mau mengakui lagi sang anak tersebut sebagai darah dagingnya, bahkan dengan teganya sang anak pun diusir dari rumah.


Mungkin kadangkala sikap emosional itu seperti pemecahan masalah tetapi kepuasan yang di dapat sebenarnya hanyalah kepuasaan hawa nafsu, bukan kepuasan yang didasari oleh kebenaran. Percayalah suatu tindakan yang diambil karena dorongan emosi hanya akan menyebabkan penyesalan kemudian.


Kepada saudaraku yang diamanahi kedudukan strategis, sudah semestinya menghindari tindakan-tindakan yang emosional, apalagi jika tindakan emosional itu dilakukan semata-mata karena iri dan prasangka kepada seseorang, seperti ; takut kehilangan jabatan karena orang lain lebih pintar, atau takut orang lain lebih populer dibanding kita. Tindakan emosional seperti ini hanya akan menjatuhkan diri sendiri dan semakin tidak disukai oleh oleh orang lain.


Rasulullah SAW yang mulia setiap tindak langkahnya senantiasa didasari oleh hasil pemikiran yang jernih dan tidak emosional dan inilah yang harus kita contoh dan kita teladani. Maka andaikata para orang tua,guru, dan orang-orang yang mempunyai kedudukan dapat menghindari sikap emosional, tentunya ini akan sangat baik sekali.Semoga kita digolongkan Alloh sebagai orang-orang yang gigih berusaha untuk menghindari sikap emosional.Wallahu a'lam

Selasa, 02 Agustus 2011

Agar Kita Ikhlas Beramal

Oleh. Ari Wahyono
“

Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.”  
(Al-Bayyinah: 5)

لاَيَقْبَلُ اللَّهُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ كََانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتَغَى بِهِ وَجْهَهُ.
Allah tidak menerima amal, kecuali yang dikerjakan dengan ikhlas karena Dia semata, dan dimaksudkan untuk mencari ridho-Nya. ( HR. Ibnu Majah )

إِنَّ أَخْوَفَ مَاأَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُِ, قَاَلُوْا : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُِ يَارَسَُوْلَ اللَّهِ؟
قَالَ : الرِّيَاءُ.
Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik kecil. Sahabat bertanya ; apa syirik kecil itu ya Rasulallah ? Jawab Rasul ( Saw ) : “ Riya’ “ ( HR. Ahmad )

Sendiri maupun berjamaah : Mesti Ikhlas

Secara etimologis (Bahasa Arab) ikhlas berakar dari kata kha-la-sha dengan arti bersih, jernih, murni; tidak bercampur.Misalkan kata Maa'u Khalish artinya adalah air bening atau putih; tidak bercampur dengan kopi, teh, susu, sirup atau zat-zat lainnya. Setelah dibentuk menjadi Ikhlash (mashdar dari fi'il muta'addi khallasha) berarti membersihkan.
Secara Termminologis yang dimaksudkan ikhlas adalah beramal semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT.
Berikut adalah kiat agar kita terjaga ikhlas dalam beramal:
1. Wudhuhul hadaf
     Menjaga dan memelihara orientasi hati dan hubungan dengan Allah SWT saat beramal dan mengerjakan aktivitas baik sendiri maupun berjamaah. Keadaan ini hanya akan diperoleh manakala seseorang dalam keadaan memahami hakikat dari kedudukan dirinya sebagai makhluq yang tak lain apapun yang dia lakukan hanya atas ijin Allah SWT.
2.   Ittibau sunnah
      Mengikuti apa yang telah di contohkanRosulullah SAW yang teriwayatkan hingga ke zaman kita. ketika kita beribadah atau beramal meskipun orientasi kita hanya kepada Allah SWT namun tata caranya tidak sebagaimana diajarkan Nabi SAW maka kemungkinan besar amalan kita ini tertolak. Ini banyak berhubungan dengan Ibadah Mahdhoh (khusus), misalkan adzan...meskipun orientasinya hanya kepada Allah namun jika dilafadzkan dalam bahasa TURKI amalan kita ini tertolak, karena Rosulullah SAW tidak mencontohkan demikian.
3. Bercermin kepada para mukhlasin
    Lihatlah karya besar para shabat-tabi'in-tabiit tabi'iin....mereka berkarya dan menghaasilkan karya besar karena apapun yang mereka kerjakan, hati mereka menghadap Allah SWT. Mempelajari  sejarah kehidupan mereka memudahkan kita melihat dan kemudian bercermin...seperti itulah kitaseharusnya.
4. Merenungkan bahaya riya
    Riya adalah pemusnah amal yang mengerikan, ibarat bangunan yang besaar. kekeuatan bangunan itu ditentukan oleh kualitas bahan dan susunannya. Meskipun tinggi menjulang namun bangunan itu berkekuatan seperti tumpukan pasir di tepi pantai maka tentu bangunan itu mudah sekali musnah karena ombak pantai. Dan riya adalah pemusnah bangunan amal kita ini.
5. Mengingat indahnya balasan terhadap mukhlasin


Wallahu a'lam

Senin, 01 Agustus 2011

Selamat Datang Ramadhan 1432 H

ditulis kembali oleh. Ari Wahyono

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

“Dan sesungguhnya al-Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab” (QS Az-Zukhruf: 44).

Ketika Allah Swt.. menjadikan Islam sebagai rahmat buat alam semesta; ketika Allah Swt. menghendaki dari umat Islam menjadi umat terbaik; ketika Allah Swt. menghendaki agar umat Islam mampu memikul amanah untuk memimpin dunia ini; ketika Allah menghendaki agar umat Islam menjadi saksi bagi seluruh umat manusia, maka ketika itulah Allah Swt. mempersiapkan umat Islam sedemikian rupa, agar umat Islam ini layak menjadi umat yang terbaik. Di antara sarananya adalah dengan pembentukan manusia yang bertaqwa. Pembentukan manusia yang bertaqwa inilah yang banyak dilupakan manusia, sehingga ukuran kemajuan atau ukuran kesejahteraan hidup diukur dengan paradigma materi. Lupa bahwa manusia itu bukan hanya dari unsur materi saja, tetapi manusia punya nurani yang harus diperhatikan, yang harus dibina sehingga pantas untuk menjadi manusia yang terbaik. Oleh karena itu Ramadhan hadir di tengah-tengah kita dalam rangka untuk menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik yang layak memimpin dunia ini.
Di dalam bulan Ramadhan banyak sekali kebajikan ilahi yang harus kita dapatkan, sehingga kita keluar dari bulan Ramadhan ini benar-benar menjadi manusia terbaik, manusia yang berkualitas, manusia yang berprestasi. Oleh karena itu marilah kita berupaya benar-beanr memahami puasa itu sebagaimana yang diharapkan Allah Swt.
Pertama, puasa membentuk manusia yang mengoptimalkan kontrol diri (self control). Mengapa? Karena puasa sangat terkait dengan keimanan seseorang. Seseorang bisa saja mengatakan dirinya sedang berpuasa, sekalipun sebenarnya tidak. Oleh karena itu puasa disebut ‘ibaadah sirriyyah (ibadah yang bersifat rahasia). Rahasia antara seorang hamba dengan Al-Kholiq. Sampai-sampai Allah Swt. mengatakan dalam sebuah hadits Qudsi yang sering kita dengar “Kulluu ‘amali ibnu aadama lahu illash-shiyaam. Fa innahu lii wa ana ajzii bihi (setiap amal manusia untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk aku. Dan akulah yang membalasnya)”. Pertanyaannya adalah apakah amal selain puasa tidak dibalas Allah? Dibalas. Tetapi kenapa dalam masalah puasa Allah menegaskan bahwa Dia yang akan membalasnya sehingga seolah-olah amal yang lain itu bukan Allah yang membalasnya? Ini merupakan isyarat Rabbaniyah bahwa amal manusia yang bernama ash-shiyam benar-benar insya Allah akan dijamin diterima oleh Allah Swt. Apakah yang lain tidak dijamin? Ini karena puasa itu adalah ibadah sirriiyyah, dimana orang tidak mengetahui dan tidak melihat ketika dia berpuasa. karean ketika kita berpuasa, tidak ada orang lain yang tahu. Maka ibadah yang sirriyyah itu adaah sangat dekat dengan keikhlasan. Dan syarat agar suatu amal itu diterima oleh Allah, selain harus benar sesuai dengan ajaaran Rasulullah Saw., harus ikhlas. Makanya kalau ingin menjadi orang yang populer, tidak bisa melewati pintu puasa. Kalau terkenal sebagai seorang mubaligh, bisa. Terkenal menjadi qori’ dan qori’ah, bisa. Terkenal menjadi politikus, bisa. Dan itu semuanya sangat rawan dengan riya’, dan riya’ itu menjadikan amal tidak diterima oleh Allah Swt. Itulah  sebabnya mengapa dalam kaitannya dengan puasa ini Allah menegaskan bahwa Dia sendiri yang akan membalasnya. Inilah yang dikatakan bahwa puasa akan melatih kita untuk mempunyai tingkat kontrol yang tinggi, baik ketika kita menjadi seorang pemimpin, atau karyawan, ulama’ atau yang lainnya. Kita tidak merasa dikontrol oleh yang lainnya, akan tetapi yang terpentinga dalah bahwa kita sadar bahwa kita dikontrol oleh Allah Swt.
Yang kedua, lembaga shiyam ini mendorong kita agar kita agar obsesi kita tentang kehidupan akherat itu lebih dominan daripada obsesi dunia. Jadi obsesi ukhrowi kita, agar kita menjadi hamba Allah yang akan mendapatkan kenikmatan abadi, itu harus lebih dominan daripada kesenangan yang sifatnya sementara. Karena seluruh kenikmatan yang ada di dunia ini, nikmat apa pun namanya, harta, pangkat, dan sebagainya itu semuanya bersifat sementara. Makanya dalam bahasa Al-Qur’an kenikmatan dunia itu tidak disebut nikmat, akan tetapi disebut mata’. Mata’ itu arti adalah maa yatamatta’u bihil insan tsumma yazulu qoliilan-qoliilan (mata’ adalah sesuatu yang disukai oleh manusia, akan tetapi sedikit demi sedikit akan hilang)”. Kalau kita ditakdirkan Allah mempunyai istri yang sangat cantik, ketika sudah berusai 60 tahun, maka kecantikannya pasti akan luntur, sehingga mungkin kita berpikir mencari yang masih muda lagi. Kenapa? karena kenikmatan dunia itu pasti ada batasnya. Ini adalah halyang manusiawi. Puasa itu melatih kita agar obsesi yang ada dalam diri kita itu obsesi yang tentang kehidupan yang abadi di akhirat. Makanya makanan, minuman, istri, dan semua yang halal itu kita gapai dalam rangka untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi.
Di negara kita yang sedang terkena krisis multi dimensional ini dan dipenuhi dengan kerusuhan, disebabkan karena banyak manusia di negara ini ytang obsesinya bukan obsesi ukhrowi. Ada orang yang ingin menjatuhkan orang lain, ada orang yang khawatir kalau-kalau dijatuhkan. Kalau obsesi duniawi ini dominan, bisa-bisa kita akan kehilangan kehidupan ukhrowi kita. Ketika kita memasuki bilan Ramadhan, maka kita akan ditarbiyah oleh Allah agar obsesi kit aadalah obsesi ukhrowi. Namun ini bukan berarti kehidupan duniawi dilarang. Akan tetapi duniawi itu bukan yang dominan dalam kehidupan kita. Makanya kita diajarkan untuk berdo’a “Walaa taj’al mushiibatana fii diinina, walaa taj’aliddun-yaa akbaro hammina (jangan jadikan dunia sebagai obsesi terbesar dalam kehidupan kami), walaa mablagho ‘ilmina, walaa ilannaari mashiirona. Do’a ini sering dibaca, akan tetapi dalam perbuatannya warnanya lain.
Yang ketiga, dari lembaga shiyam ini akan melahirkan manusia-manusia yang benar-benanr mempunyai al-hasasiyyah al-ijtima’iyyah (mempunyai kepekaan sosial yang tinggi). Dari mana bisa kita ketahui? Ketika kita berpuasa sunnah, baik Senin-Kamis atau puasa ayyamul bidh, kita merasakan berpuasa sendirian. Dibandingkan dengan puasa di bulan Ramadhan, puasa sunnah ini perasaan kita lebih berat, karena dilaksanakan sendirian. Ini yang harus kita perhatikan, sekarang ini bangsa kita (sebagian besar) sudah kehilangan kepekaan sosial. Kalau ada tindak kejahatan di tempat keramaian, sangat langka kita temukan orang yang peduli dengan membantu melawan penjahat. Kalau ada wanita yang sangat cantik lewat dan hampir semua mata melihat, apakah ada orang yang memprotes hal itu? Padahal, bukankah wanita itu isterinya orang yang haram untuk dipelototi? Bahkan perbuatan seperti ini kadangkala diberikan pembenaran dengan dalih ‘mubadzir’ kalau tidak dilihat. Ini menunjukkan rendahnya sensitifitas keimanan (hasasiyah imaniyah). Yang ada adalah kerawanan dalam kehidupan sosial, karena kemaksiatan sudah melembaga dan orang diam saja ketika melihatnya. Padahal di masa Rasulullah SAW, orang tidak akan tinggal diam ketika melihta suatu kemungkaran. Bahkan ketika jauh setelah kehidupan Rasulullah, baik di jaman tabi’in maupun tabi’it tabi’in, tetapi mereka masih komitmen dengan ajaran Allah, maka sensitifitas sosial itu sangat tinggi. Misalnya, di jaman dahulu kalau kita shalat jama’ah di masjid, kemudian kita melihat ada tetangga atau saudara kita tidak datang, maka setelah selesai shalat, semua jama’ah langsung mendatangi orang yang tidak shalat berjama’ah tadi untuk menziarahinya, seolah-olah orang yang tidak shalat jama’ah itu adalh orang yang mati sehingga perlu dita’ziyahi. Kalau seandainya kita tidak shalat jama’ah dan kemudia kita dita’ziyahi, maka kita akan termotivasi untuk selalu shalat jama’ah. Dan shalat jama’ah adalah ibadah yang sangat terkait dengan sensitifitas sosial. Ironisnya di negara ini ketika ada orang diganggu, dicopet, atau digoda, yang lainnya diam saja, dan bisikan yang ada dalam dirinya adalah ‘yang penting saya selamat’. Orang seperti ini adalah orang yang mati dalam kehidupannya, karena bahasa masing-masing itu bahasa akhirat, bahasa ketika kiamat tiba, sehingga orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Suami lari dari istri dan anaknya, anak lari dari orang tuanya. Allah berfirman:
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya” (QS ‘Abasa: 33-37).
Jadi kehidupan masing-masing itu adalah kehidupan akherat. Akan tetapi sekarang ini sudah ada di dunia., Berarti seolah-olah sebagian masyarakat sudah merindukan kematian, padahal masih hidup. Makanya banyak kebajikan yang tidak jalan, keadilan tidak tegak. Dalam kondisi demikian, puasa hadir di tengah-tengah kita untuk memperlihatkan bagaimana Islam itu benar-benar mempunyai kepedulian terhadap kehiduapan bermasyarakat.
Pada masa Rasulullah Saw., ada juga kemaksiatan. Ada juga shahabat yang berbuat maksiat, karena mereka bukan malaikat. Sekalipunsebaik-baik generasi adalah genarasi Rasulullah Saw., akan tetapi ada saja yang berbuat maksiat. Ada yang pernah mencuri, ada yang pernah berbuat zina dan yang lainnya. Akan tetapi kriminalitas itu masih sangat kecil sekali, sehingga jarang ditemui. Itu pun bersifat pribadi dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Ironisnya, sekarang maksiat itu dilakukan ramai-ramai dan secara terang-terangan tanpa malu-malu. Sehingga yang benar itu tertutup, keamanan tidak nampak. Yang nampak adalah sesuatu yang menakutkan. Bahkan kadang-kadang sampai di tempat yang suci seperti masjid, kadang-kadang orang tidak bisa khusyu’ shalatnya karena takut sepatu atau sandalnya hilang. Kalau di masjid saja orang masih tidak khusyu’ beribadah karena khawatir menjadi korban kejahatan, bagaimana di tempat yang lain? Ini semua karena bayak orang yang telah kehilangan kepedulian sosialnya. Inilah bedanya antara jaman kita dengan jaman Rasulullah Saw. Bahkan di masa Rasulullah Saw., ketika ada seorang berbuat zina dan kemudian dia hamil, dia sendiri kemudian bertaubat dan malah dia sendirilah yang melakukan perbuatannya itu kepada Rasulullah Saw., karena ketika dia berzina, itu terjadi karena kelemahamn iamnnya. Dalam hadits dijelaskan “Laa yadri azzani ila yazni wahuwa mu’min (tidaklah seseorang berani berbuat zina ketika zina, sementara dia dalam keadaan beriman)”. Ketika seorang perempuan tadi berzina, dan setelah itu ia sadar bahwa ia telah berbuat dosa, langsung dia datang kepada Rasulullah Saw. minta agar dia dihukum sesuai dengan ajaran Islam. mari kita merenung. Memang benar bahwa pada masa Raulullah pun ada orang yang berbuat salah. Akan tetapi ketika ada diantara mereka yang berbuat salah, dia langsung mengaku dan minta dihukum, padahal oranmg lain tidak tahu. Sekarang bagaimana kondisinya? Jadi kalau kita bersalah, hendaklah kita datang untuk minta dihukum. Kenapa? Karena seorang mukmin yang benar-benar beriman, benar-benar yakin bahwa siksa akhirat itu lebih pedih. Dengan demikian, benar-benar akan efisien tenaga itu. Kalau seandainya semua orang sama dengan wanita yang bertaubat ini, maka aparat hukum tidak perlu capai-capai.
Ash-shiyam secara bahasa artinya adalah al-habsu (menahan diri), menahan diri dari seluruh bentuk kemaksiatan. Kalau setiap kita menahan diri, jangankan terhadap yang haram, yang mubah saja akan kita tinggalkan. Makanan, minuman, istri itu kan boleh. Akan tetapi di bulan Ramadhan pada siang harinya semua bisa kita tahan. Kalau yang halal saja bisa kita tahan, apalagi yang haram? Oleh karena itu jangan dalam berpuasa malah terbalik, yaitu yang mubah ditinggalkan tetapi yang haram dilakukan. Makanan, minuman ditinggalkan, ghibah dilakukan, korupsi jalan terus, dengan alasan untuk persiapan lebaran.
Inilah kepekaan-kepekaan ruhani yang benar-beanr mengalir dalam setiap diri kita ketika kita berpuasa sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt. Dan jangan sampai ada di antara kita yang menganggap bahwa puasa itu berat. Bahkan Rasulullah Saw. dan para shahabat serta para tabi’in, banyak yang menggunakan Ramadhan untuk berjihad di jalan Allah Swt. Perang Badar, Perang Fathu Makkah, Perang ‘Iinu Jaalut yang terjadi pada abad ke-7 Hijriyah, dimana tentara-tentara Islam di bawah pimpinan mamaalik (jama’ dari mamluk) bisa mengalahkan tentara-tentara salib, terjadi di bulan Ramadhan. Saking hebatnya kemenangan yang dicapai umat Islam pada bulan Ramadhan, Allah Swt. mengabadikannya dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang terdapat pada QS Al-Anfal, dimana perang Badar dikatakan sebagai yaumal furqoon, sebagaimana yang terdapat pada firmanNya:
“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) dihari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Penguasa segala sesuatu” (QS Al-Anfal: 41).
Pasukan kebenaran yang jumlahnya sedikit, tetapi dimenangkan oleh Allah Swt. dalam melawan kekuatan bathil yang mempunyai kekuatan besar dan jumlah tentara yang sangat banyak. Oleh karena itu Ramadhan yang akan kita lalui ini semoga mengantarkan kita pada kemenenagan, kemenangan melawan hawa nafsu, kemenangan bangsa ini dalam melawan krisis, kemenangan umat Islam dalam melawan perselisihan, percekcokan antara sesama umat Islam, kemenangan bangsa ini dalam menghadapi konspirasi dunia internasional yang dimotori oleh Yahudi, yang mereka tidak senang melihat Indonesia maju karena negara ini adalah negara Islam. oleh karena itu marilah kita jadikan Ramadhan ini kita jadikan momentum Islam untuk kembali kepada Allah sehingga mencapai kemenangan yang hakiki. Wallahu a’lam bishshawab.

Senin, 25 Juli 2011

Foto Pewarta Terbaik: MIRIS

Foto Pemenang Pewarta ini kesannya : Miris

Oleh: Ari Wahyono
Miris, itu kesan pertamaku. Di sebuah negeri yang jargonnya Aman, Adil, Makmur Sentausa. Ada seorang bapak di tengah kerusuhan ini amat KETAKUTAN. Dalam hati nya, "hari ini siapa lagi yang akan menyelamatkanku?".
Berharap selamat saja susah. Berharap lebih tenang juga sulit. Koruptor dan penjahat berkerah, dimana NURANIMU!!!. Negeri penuh air mata yang tak dipedulikan lagi. Selamat merenungi, Apa lagi yang ingin anda katakan?


Minggu, 24 Juli 2011

Bagaimana Komunikasi Via Twitter

Ditulis kembali:  Ari Wahyono

Twitter

34. Tak ada tweep yang sepenuhnya salah & jahat. Sebagaimana sebuah jam matipun masih bisa memberi benar dua kali sehari;)
33. Bersikap santun jika berada di jalan benar. Sebab orang benar nan tak santun melunturkan hormat insan pada kebenaran.
32. Menyenangkan semua orang itu melelahkan. Cukuplah twit-twit ini jadi gambaran bahwa yang kita kehendaki murni baiknya.
31. Jauh lebih mudah mendapat teman dengan tertarik pada mereka, daripada mencoba membuat mereka tertarik pada kita.

30. Meng #FF orang shalih nan tweet-nya mencerahkan ialah jasa berbalas surga, seperti Habib An Najjar (Qs Yaasiin: 20-27)
29. Menyebut asal twit saat RT, Co-Pas, & inspired ialah bagian dari penghormatan pada Tweeps lain, juga pada nurani kita.
28. Senyum kecil & pujian sederhana mungkin saja membuat Tweeps lain kembali percaya bahwa dia berhak & layak berbuat baik
27. Pastikan tidak ada kata terlewat
26. Berceritalah tentang diri, tapi tak perlu banyak-banyak. Sebab yang mencinta tak memerlukan, yang benci takkan percaya

25. Mungkin ada yang menyebut sok alim, sok suci, sok shalih tersebab tweets kita baik. Bagaimanapun jua, berkebajikanlah.
24. Setiap keterlibatan dalam ghibah & aib sesama, membuat pahala diambil & dosa si teraib ditambahkan ke buku amal kita.
23. Setiap twit yang baik itu sedekah. Ia lebih baik dibanding pemberian emas sepenuh bumi diikuti ungkitan nan menyakiti.
22. Pada tiap gaya, kita ingat bahwa; banyak canda turun wibawa, banyak keluh kehormatan jatuh, mudah marah jatuh ‘izzah.
21. Doa selalu baik; nan kala gaibnya mustajab, nan di hadapannya jadi pujian penuh makna. Saling memanggillah dengan doa!

20. Jadikan penyebutan nikmat-nikmatNya dalam tweet kita sebagai inspirasi syukur & kerja keras, bukan riya’ & takjub diri
19. Mengeluh pada banyak orang adalah cara termudah untuk mengubah gelap yang setitik menjadi pekat semesta. Bijaklah!
18. Jika kita merasa bahwa segala di sekitar gelap, curigalah bahwa kita ini yang dikirim Allah sebagai cahaya tuk mereka!
17. Jika kita merasa bahwa semua Tweeps punya masalah dengan kita, curigalah bahwa kita inilah masalahnya. Lalu berbenah.
16. Luka yang berbahaya ialah luka pada mereka nan shalih. Luka itu menuntun kita tak suka pada keshalihan. Sembuhkanlah!

15. Reaksi berlebihan ialah tanda bahwa ada luka di hati kita. (Jabat tangan pun menyakitkan bagi yang jarinya bertelusuk)
14. Mereka nan suka menghakimi itu tanda bahwa kelak dirinya jadi terdakwa di depan banyak korban. Kasihilah dengan tulus
13. Mereka yang suka menghina adalah bukti bahwa dirinya rindu pemuliaan. Berikanlah selayaknya dengan murah hati
12. Tanggapi tiap yang mengacau dengan keteraturan. Tanggapi tiap nan membabibuta dengan 7 basuhan, air & salah 1-nya debu
11. Sikapi tiap yang menyesatkan dengan cantiknya ungkapan berhidayah. Sikapi tiap nan keliru dengan indahnya berkebenaran
10. Balaslah tiap yang menyakitkan dengan yang menyembuhkan. Balaslah tiap yang menjatuhkan dengan yang membangunkan
9. Menjadi kritis tak sama dengan ber-sinis ria. Tak bisa bedakan keduanya menyulitkan kita beri sumbangsih pada kebenaran
8. Menista & merendahkan pribadi Tweep lain tidaklah menjatuhkannya. Itu hanya menunjukkan kerdil & hinanya diri sendiri
7. Smua tweeps itu Guru, apapun tweetnya. Bukan sebab mereka pasti bijak. Tapi kitalah nan selalu belajar tuk jadi bestari
6. Benci dan permusuhan pada orang atau pihak tak boleh hingga lunturkan akhlaq mulia, kesantunan kata, & sikap adil kita

5. Me-RT hanya nan jelas benar, baik, dan bergunanya; sebab cukuplah disebut dusta dia yang katakan segala nan didengarnya
4. Memaafkan khilaf-khilaf sesama, menyuruh senantiasa pada yang baik adanya, mengabaikan yang jahil nan tak berharga
3. Hindari dusta meski sedang bercanda. Hindari debat-perbantahan yang tak lahirkan amal, meski berada di pihak nan benar
2. Ber-KICAU hanya yang baik: benar isinya, indah caranya, tepat waktunya. Atau DIAM menyimak, mengambil ‘ibrah terbaiknya
1. Tak congkak kalau difollow, tak kecewa jika di-unfollow, tetap berkebajikan ketika di-block, syukur saat kebaikan di-RT

Renungan : Kemiskinan

Punya pendidikan tinggi merupakan impian tiap orang. Tapi, bagaimana jika kemiskinan terus menghadang. Jangankan untuk biaya kuliah, buat makan saja susah.
Berikut ini penelusuran dan wawancara Eramuslim dengan seorang pemulung yang kini bisa terus kuliah di jurusan akuntansi di Pamulang, Tangerang. Mahasiswi berjilbab itu bernama Ming Ming Sari Nuryanti.
Pemulung diantara sampah
 Sudah berapa lama Ming Ming jadi pemulung?
Sejak tahun 2004. Waktu itu mau masuk SMU. Karena penghasilan ayah semakin tidak menentu, kami sekeluarga menjadi pemulung.
Sekeluarga?
Iya. Setiap hari, saya, ayah, ibu, dan lima adik saya berjalan selama 3 sampai 4 jam mencari gelas mineral, botol mineral bekas, dan kardus. Kecuali adik yang baru kelas 2 SD yang tidak ikut.
***
Tempat tinggal Ming Ming berada di perbatasan antara Bogor dan Tangerang. Tepatnya di daerah Rumpin. Dari Serpong kurang lebih berjarak 40 kilometer. Kawasan itu terkenal dengan tempat penggalian pasir, batu kali, dan bahan bangunan lain. Tidak heran jika sepanjang jalan itu kerap dipadati truk dan suasana jalan yang penuh debu. Di sepanjang jalan itulah keluarga pemulung ini memunguti gelas dan botol mineral bekas dengan menggunakan karung.
Tiap hari, mereka berangkat sekitar jam 2 siang. Pilihan jam itu diambil karena Ming Ming dan adik-adik sudah pulang dari sekolah. Selain itu, bertepatan dengan jam berangkat sang ayah menuju tempat kerja di kawasan Ancol.
Setelah berjalan selama satu setengah sampai dua jam, sang ayah pun naik angkot menuju tempat kerja. Kemudian, ibu dan enam anak itu pun kembali menuju rumah. Sepanjang jalan pergi pulang itulah, mereka memunguti gelas dan botol mineral bekas.
Berapa banyak hasil yang bisa dipungut?
Nggak tentu. Kadang-kadang dapat 3 kilo. Kadang-kadang, nggak nyampe sekilo. Kalau cuaca hujan bisa lebih parah. Tapi, rata-rata per hari sekitar 2 kiloan.
Kalau dirupiahkan?
Sekilo harganya 5 ribu. Jadi, per hari kami dapat sekitar 10 ribu rupiah.
Apa segitu cukup buat 9 orang per hari?
Ya dicukup-cukupin. Alhamdulillah, kan ada tambahan dari penghasilan ayah. Walau tidak menentu, tapi lumayan buat keperluan hidup.
***
Ming Ming menjelaskan bahwa uang yang mereka dapatkan per hari diprioritaskan buat makan adik-adik dan biaya sekolah mereka. Sementara Ming Ming sendiri sudah terbiasa hanya makan sekali sehari. Terutama di malam hari.
Selain itu, mereka tidak dibingungkan dengan persoalan kontrak rumah. Karena selama ini mereka tinggal di lahan yang pemiliknya masih teman ayah Ming Ming. Di tempat itulah, mereka mendirikan gubuk sederhana yang terbuat dari barang-barang bekas yang ada di sekitar.
Berapa hari sekali, pengepul datang ke rumah Ming Ming untuk menimbang dan membayar hasil pungutan mereka.
Kalau lagi beruntung, mereka bisa dapat gelas dan botol air mineral bekas di tempat pesta pernikahan atau sunatan. Sayangnya, mereka harus menunggu acara selesai. Menunggu acara pesta itu biasanya antara jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Selama 5 jam itu, Ming Ming sebagai anak sulung, ibu dan dua adiknya berkantuk-kantuk di tengah keramaian dan hiruk pikuk pesta.
Kalau di hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, keluarga pemulung ini juga punya kebiasaan yang berbeda dengan keluarga lain. Mereka tidak berkeliling kampung, berwisata, dan silaturahim ke handai taulan. Mereka justru memperpanjang rute memulung, karena biasanya di hari raya itu, barang-barang yang mereka cari tersedia lebih banyak dari hari-hari biasa.
Ming Ming tidak malu jadi pemulung?
Awalnya berat sekali. Apalagi jalan yang kami lalui biasa dilalui teman-teman sekolah saya di SMU N 1 Rumpin. Tapi, karena tekad untuk bisa membiayai sekolah dan cinta saya dengan adik-adik, saya jadi biasa. Nggak malu lagi.
Dari mana Ming Ming belajar Islam?
Sejak di SMU. Waktu itu, saya ikut rohis. Di rohis itulah, saya belajar Islam lewat mentoring seminggu sekali yang diadakan sekolah.Ketika masuk kuliah, saya ikut rohis. Alhamdulillah, di situlah saya bisa terus belajar Islam.Orang tua tidak masalah kalau Ming Ming memakai busana muslimah?Alhamdulillah, nggak. Mereka welcome saja. Bahkan sekarang, lima adik perempuan saya juga sudah pakai jilbab.
***
Walau sudah mengenakan busana muslimah dengan jilbab yang lumayan panjang, Ming Ming dan adik-adik tidak merasa risih untuk tetap menjadi pemulung. Mereka biasa membawa karung, memunguti gelas dan botol air mineral bekas, juga kardus. Bahkan, Ming Ming pun sudah terbiasa menumpang truk. Walaupun, ia harus naik di belakang.
Ming Ming kuliah di mana?
Di Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi S1.
Maaf, apa cukup pendapatan Ming Ming untuk biaya kuliah?
Jelas nggak. Tapi, buat saya, kemiskinan itu ujian dari Allah supaya kita bisa sabar dan istiqamah. Dengan tekad itu, saya yakin bisa terus kuliah.
Walaupun, di semester pertama, saya nyaris keluar. Karena nggak punya uang buat biaya satu semester yang jumlahnya satu juta lebih. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah semuanya bisa terbayar.
***
Di awal-awal kuliah, muslimah kelahiran tahun 90 ini memang benar-benar melakukan hal yang bisa dianggap impossible. Tanpa uang memadai, ia bertekad kuat bisa masuk kuliah.
Ketika berangkat kuliah, sang ibu hanya memberikan ongkos ke Ming Ming secukupnya. Artinya, cuma ala kadarnya. Setelah dihitung-hitung, ongkos hanya cukup untuk pergi saja. Itu pun ada satu angkot yang tidak masuk hitungan alias harus jalan kaki. Sementara pulang, ia harus memutar otak supaya bisa sampai ke rumah. Dan itu ia lakukan setiap hari.
Sebagai gambaran, jarak antara kampus dan rumah harus ditempuh Ming Ming dengan naik empat kali angkot. Setiap angkot rata-rata menarik tarif untuk jarak yang ditempuh Ming Ming sekitar 3 ribu rupiah. Kecuali satu angkot di antara empat angkot itu yang menarik tarif 5 ribu rupiah. Karena jarak tempuhnya memang maksimal. Jadi, yang mesti disiapkan Ming Ming untuk sekali naik sekitar 14 ribu rupiah.
Di antara trik Ming Ming adalah ia pulang dari kuliah dengan berjalan kaki sejauh yang ia kuat. Sambil berjalan pulang itulah, Ming Ming mengeluarkan karung yang sudah ia siapkan. Sepanjang jalan dari Pamulang menuju Serpong, ia melepas status kemahasiswaannya dan kembali menjadi pemulung.
Jadi, jangankan kebayang untuk jajan, makan siang, dan nongkrong seperti mahasiswa kebanyakan; bisa sampai ke rumah saja bingungnya bukan main.
Sekarang apa Ming Ming masih pulang pergi dari kampus ke rumah dan menjadi pemulung sepulang kuliah?
Saat ini, alhamdulillah, saya dan teman-teman UKM Muslim (Unit Kegiatan Mahasiswa Muslim) sudah membuat unit bisnis. Di antaranya, toko muslim. Dan saya dipercayakan teman-teman sebagai penjaga toko.
Seminggu sekali saya baru pulang. Kalau dihitung-hitung, penghasilannya hampir sama.
Jadi Ming Ming tidak jadi pemulung lagi?
Tetap jadi pemulung. Kalau saya pulang ke rumah, saya tetap memanfaatkan perjalanan pulang dengan mencari barang bekas. Bahkan, saya ingin sekali mengembangkan bisnis pemulung keluarga menjadi tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu, menjadi bisnis daur ulang. Dan ini memang butuh modal lumayan besar.
Cita-cita Ming Ming?
Saya ingin menjadi da'i di jalan Allah. Dalam artian, dakwah yang lebih luas. Bukan hanya ngisi ceramah, tapi ingin mengembangkan potensi yang saya punya untuk berjuang di jalan Allah. (MN, www.eramuslim.com)