Big Think, Love & Success!!

.

Di Yogyakarta aku Tinggal

Kota Yogyakarta, kota pusat pendidikan di pulau jawa bagian tengah. Menyimpan berjuta kenangan bagi siapapun yang pernah belajar disini...

Berjuta Pesona

Yogyakarta dan pesona nya memikat mata warga dunia. Sudah siapkah menjadi bagiannya?...

Kendalikan Kecepatanmu

Persiapkan diri untuk melaju ikuti perkembangan dunia..

Harmoni dan Kesembangan

Hidup seimbang ciptakan harmonisasi diri..

Keindahan

Keindahan itu adalah impian setiap insan....Keindahan Hidup dalam menuju keabadian

Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2011

Harga Diri (?)

"Adapun manusia apabila Tuhan-Nya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” [ QS. Al-Fajr ayat 15]
Harga diri seperti cahaya...

Adalah sudah menjadi fitrah kalau setiap manusia sangat merindukan penghargaaan dan penghormatan dari sesamanya. Orang-orang pun selalu berikhtiar dengan caranya sendiri untuk mendapatkannya.

Ada yang menganggap harta sebagai simbol penghargaan, sehingga orang pun berjuang keras untuk meraup dan mengumpulkannya dengan berbagai cara.

Ada yang menganggap pangkat dan kedudukanlah yang dapat meningkatkan derajat kemuliaan, sehingga berupayalah ia untuk meraih pangkat dan kedudukan tersebut setinggi-tingginya. Ada pula yang menganggap justru penampilan dan rupalah yang bisa membuat orang menghargaianya. Karenanya, tidak usah heran kalau begitu banyak orang yang berletih-letih, berjam-jam untuk membuat tubuhnya menjadi indah.

Akan tetapi, kenyataan membuktikan betapa banyak orang memiliki harta melimpah, kedudukan yang tinggi, gelar berderet, dan penampilan yang luar biasa, toh tetap saja tidak memiliki harga. Bahkan tidak jarang semua yang dianggap akan mendatangkan penghargaan terhadap dirinya, malah sebaliknya membuahkan cibiran dan hinaan orang karena tercemari oleh sikap atau perbuatannya sendiri.

Mengapa bisa terjadi demikian ? salah satu penyebabnya adalah karena terkadang banyak orang yang sibuk mencari penghargaan dari orang lain melalui berbagai atribut keduniaan, tetapi melupakan sesuatu yang justru sangat mahal nilainya yakni harga diri. Sebanyak apa pun atribut duniawi yang dia miliki, tetapi kalu tidak memiliki harga diri, maka tidak usah heran ia tidak akan pernah memiliki harga yang sesungguhnya.

Karena, harta, gelar, pangkat, kedudukan, dan penampilan hanyalah sekedar bungkus, sedangkan harga diri adalah isi. Sayangnya, orang justru sering mudah terjebak oleh bungkus belaka, sehingga menganggap semua itu adalah kemuliaan yang diberikan Alloh untuknya.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku.”[QS. Al-Fajr ayat 15]         

Padahal demi Alloh orang yang berpikiran semacam itu adalah benar-benar terkecoh dan tertipu oleh fatamorgana dunia. Karena, siapapun yang meyakini atribut keduniaan sebagai satu-satunya jalan datangnya kemuliaan dan penghargaan dari orang lain, maka setiap saat dengan mudah ia bisa terpelanting ke jurang kehinaan dan benar-benar tidak akan lagi punya harga.

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman :

……...“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bewntuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” [QS.At-Tiin ayat 4-5]


Cinta Dunia    


Mengapa sebagian besar orang ternyata lebih merasa memiliki harga dengan memperindah “bungkus” daripada berusaha menggali, memiliki dan mempertahankan “isi”? Padahal justru “isi” itulah, harga diri itulah, yang justru bisa menjadi jalan datangnya kemuliaan dan penghargaan dari sesama.

Jawabnya, ternyata karena kebanyakan manusia berkecenderungan memiliki sifat hubbud dunya (cinta dunia). Padahal justru sifat inilah yang menjadi factor pailing potensial mengakibatkan seseorang rontok wibawa dn kemuliaannya walaupun ia punya segala-gala.

Betapa tidak ! semakin seseorang mencintai dunia dan menganggap sebagai jalan datangnya penghargaan bagi dirinya, dia akan semakin terperosok ke dalam sisi kehidupan yang pasti menyengsarakan lahir batinnya. Mengapa ? karena, di dalam tubuh manusia itu terdapat qolbu, satu perangkat yang tidak akan pernah terpuaskan oleh dunia berikut isinya.

Oleh sebab itu, meskipun orang telah memiliki berbagai apa pun di dunia ini, kalau qolbunya tidak pernah mwengenal Alloh Dzat pemilik alam semesta ini, maka ia tidak akan pernah memiliki, apalagi dapat menikmati hakikat kemuliaan diri dan ketenteraman dalam hidup. 


Materialistis adalah sala sati penyakit yang melanda tidak saja orang-orang non muslim, tetapi juga sebagian besar kaum muslimin. Bagi orang-orang yang dilanda penyakit ini, hal yang dipikirkan dan dicarinya terus menerus siang malam hanyalah segala sesuatu yang bersifat duniawi. Ia serta-merta akan merasa bangga ketika dunia datang kepadanya. Sehingga menjadi sibuk pamer dan sibuk sombong meremehkan orang lain. Sebaliknya ia akan sangat terluka sedih luar biasa, terpuruk dan terpukul manakala Alloh mengambil kembali dunia itu dari genggamannya.


Sama jeleknya dengan orang yang sombong karena ada dan menjadi minder karena tiada. Kalau orang datang dengan penampilan yang baik secara duniawi, kadang-kadang penghaormatan pun serta merta kita berikan kepadanya. Padahal kita tidak tahu asesoris harta yang dimilikinya itu datangnya darimana. Kita memang mudah terjebak menghargai orang hanya dari status duniawi. Jarang kita berani menelusuri status kepribadiannya.
Barangsiapa yang mulai terperosok oleh kerinduan dipuji karena dunia, maka akan terkuras habis waktunya digunakan untuk berpikir dan bekerja banting tulang demi mendapatkannya, tanpa ia sendiri bisa menikmatinya. Persis seperti seorang anak kecil yang merengek-rengek kepasda orang tuanya minta dibelikan petasan. Ketika uang didapatkan ia pin lari ke warung. Terengah-engah nafasnya, bersimbah keringatnya.


Petasan yang di dambakannya pun didapatkan, sehingga dengan kegirangan ia kembali berlari pulang. Saking gembira hatinya, ia lengah tidak lagi melihat jalan yang ditapaki, sehingga kaki pun terantuk batu dan jatuh terjerembablah ia. Tubuhnya terluka dan mengeluarkan darah, iapun meringis menahan kesakitan, namun petasan tetap tergenggam erat di tangan. Akan tetapi masya Alloh, ketika petasan tersebut hendak disulut, ia malah memberikan kepada kakanya yang lebih besar. “ kak, tolong bakarkan petasan ini.” Sementar ia sendiri malah menutup telinganya rapat-rapat.

Petasan meletus tanpa ia nikmati. Orang lainlah yang menikmatinya, sedangkan dirinya hanya mendapatkan keletihan dan luka di badan. Demikianlah ciri khas ahli dunia. Ia akan sibuk sekali mencari dan mencari segala harta, gelar pangkat dan kedudukan, sampai-sampai tersiksa sendiri lahir batinnya, padahal ia sendiri tidak pernah bisa menikmati seutuhnya.        


Siang malam mengejar kekayaan, lupa membina istri, alpa mendidik anak-anak, apalagi berpikir untuk bekal kepulangan ke akhirat kelak. Segala cara dihalalkan harta pun melimpah ruah. Berjuta atau bahkan bermilyar rupiah tabungan tersimpan di bank. Namun sebanyak apa pun uang yang ditimbunnya sungguh ia tidak pernah memegangnya karena justru pihak bank lah yang menikmatinya. Villa pun dibangun di lereng bukit, namun berapa hari dlam seminggu ia dapat beristirahat di dalamnya ? kenyataan yang ada malah sejumlah pembantunya lah, yang ditugasi menjaga dan merawatnya siang malam, yang enak-enak menikmati nyamannya villa itu.

Demi kenyamanan pergi dan pulang kantor atau bepergian kemanapun yang diinginkan, mobil mewah berharga ratusan juta rupiah pun ia usahakan. Cobalah kita tanya, berapa menit kah dalam sehari ia sempat menikmati kursi empuknya. Kenyataannya justru sang supirlah yang enak-enak tiduran di kursi empuk sedan sementara menunggu majikan keluar dari tempat kerjaan. Akan tetapi, sang majikan yang setiap hari dipusingkan oleh berbagai urusan kantor, pikirannya  yang selalu tegang niscaya akan mudah marah meradang, sehinggga sang supir bisa kena dampratan, pembantu di rumah pun kerap kali kena sasaran kemarahan.

Di depan majikan supir dan pembantu itu akan tunduk ketakutan, tatapi di belakang mereka kerap bersungut-sungut dan menyumpah serapahinya habis-habisan. Oleh bawahannya di kantor ia sangat dihormati. Oleh relasi dan rekannya ia disanjung dan dipuji. Akan tetapi, masya Alloh, harga diri wibawa dan kemuliaannya justru jatuh terpuruk dimata supir dan pembantunya sendiri karena ia telah terjebak oleh harta, gelar, pangkat, dan kedudukan yang disandangnya, yang ia sangka sebagai sumber segala kemuliaan hidupnya. Demi Alloh Islam mengajarkan kita harus berikhtiar keras di dunia ini demi harga diri dan keluarga memiliki bekal hidup yang cukup. Akan tetapi untuk mendapatkannya kita harus memakai adab, sehingga harga diri kita tidak rontok karenanya.

Bagaimana caranya agar kita dapat memiliki dunia seraya tetap dapat mempertahankan dan memelihara satu-satunya “harta” yang tak ternilai harganya ini ? kuncinya tiada lain adalah bahwa kita harus memiliki dunia ini tanpa harus tergelincir menjadi ahli dunia, menjadi orang yang cinta dunia. Milikilah harta, gelar, pangkat, dan kedudukan untuk bekal hidup di dunia ini secukupnya saja, tetapi curahkanlah segala yang telah didapatkan itu sebanyak-banyaknya untuk beribadah kepada Alloh ‘Azza wa jalla, Dzat pemilik segala kemuliaan.

Sungguh, “ Barangsiapa yang menjadikan dunia ini (pusat) cita-citanya, niscaya Alloh akan mencerai beraikan urusannya dan menjadikan kepapaan menghantui dirinya serta tidak akan datang kepadanya keduniaan, kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan. Akan tetapi, barangsiapa yang menjadikan akhirat itu niatnya, niscaya Alloh menghimpunkan segala urusan serta menciptakan kepuasan dalam hatinya sementara dunia datang tunduk kepadanya (Al-Hadits). Wallahu ‘alam

Rabu, 09 Februari 2011

6 Sumber-sumber kebahagiaan Muslim














Ditulis kembali oleh Ari Wahyono

Bani Adam dalam kehidupannya secara fitroh mencari sesuatu atau apapun yang mereka yakini membawa dirinya kepada kebahagiaan.
Demikian sebaliknya manusia menghindari dan takut akan kesengsaraan serta derita. Motif inilah yang ternyata banyak menggerakkan aktivitas kehidupan. Jika kita bertanya, mengapa kita melakukan aktivitas hidup (bekerja, belajar, ngaji dll) tentu jawabannya agar hidup ini makin berkualitas dan kemudian dengan itu tingkat kebahagiaan makin dekat. Meskipun sesuatu untuk memperleh kebahagiaan itu berbeda bagi sebagian orang satu dan yang lainnya. Namun Rosulullah SAW melalui ISlam sebagai ajaran yang sempurna ini memberikan beberapa kebahagian maknawi yang akan diperoleh siapapun ketika ia memilikinya.

1. Amal Sholih (QS An Nahl : 97)
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (QS AN Nahl : 97)

2. Istri Shlihah (QS Al Furqon : 74)
Dibalik kisah BESAR orang orang besar, dibelakangnya ada WANITA yang luar biasa. Dalam Islam dijelaskan di dalam riwayat bahkan Wanita adalah Pilar Ad Diin.
kedudukan ini sangat penting. Mengingat memang demikianlah kebutuhan fitroh insaniyah. Sekuat apapun lelaki, ia perlu cinta. Sehebat apapun pria ia memiliki kebutuah yang hanya bisa dipenuhi manakala di dalam kehidupannnya ada sosok wanita luar biasa. Yang di dalam istilah khasanah Islam dalam keluarga Islami :"ISTRI SHOLIHAH". mengapa sebutannya "Istri Sholihah" bukan "WANITA SHOLIHAH?". JElas ada perbedaan substansial mengapa khasanah dunia ISlam menggunakan ISTRI, karena Status dan kedudukannya inilah yang dapat membuat seorang wanita menjadi layak dikatakan SHOLIHAH. Meski bukan gelar resmi namun SHOLIHAH dalam pengertian sebenarnya membutuhkan karakter dan prasyarat yang tak semua WANITA bisa melakukannya. Sebaik baik perhiasan adalah istri yang sholihah.....artinya jika memiliki perhiasan lain seseorang akan bahagia. Namun memiliki istri sholihah memberikan kebahagiaan yang ABADI...


3. Rumah yang LUAS lagi BAGUS (HR..."Yaa Allah jadikan rumah kami terasa luas..)
Rumah adalah tempat kembali, setelah ahli(anggota keluarga) kembali dari beraktivitas dan menjalani rutinitas sesuai dengan peranannya dlam kehidupan. Oleh karenanya rumah adalah tempat yang ingin selalu dimiliki seseorang. Bahkan tak heran kita, jika menemukan diri kita menginginkan rumah yang luas, bagus, megah, mewah, nyaman dll.


4. Penghasilan yang baik dan halal (HR....Sesungguhnya Allah Maha Baik dan Dia tidak menerima selain yang
Penghasilan bukanlah gaji, namun sesuatu yang dimiliki yang dapat digunakan untuk ditukarkan dengan MANFAAT yang kita butuhkan. Semakin banyak penghasilan kita maka makin banyak pula
kebutuhan yang dapat kita penuhi. Saat semua kebutuhan terpenuhi maka manusia bebas dari ke khawatiran. Saat itulah dia dikatakan MAPAN. Kemapanan adalah salah satu sumber kebahagiaan yang banyak
dikejar oleh siapapun. Namun di dalam ISlam penghasilan ini bukan hanya baik (MELIMPAH JUMLAH) namun juka berkualitas (HALAL).

5. Akhlak yang baik dan penuh kasih pada sesama (QS Maryam : 31)
Berada dalam lingkaran keluarga dan masyarakat dimana individu didalamnya memiliki standard akhlaq yang baik merupakan sebuah sumber kebahagiaan tak tergantikan. Oleh karena itu, jikalau
akhlaq kita juga telah terstandardkan maka itulah sumber kebahagiaan yang kita MILIKI.

6. Terhindar dari HUTANG dan Sifat BOROS (QS Al Furqon : 67)
"jikalau kemiskinan itu berbentuk manusia tentu aku akan membunuhnya" (ali r.a). hutang adalah tanda atau sebagian tanda kemiskinan, ia akan menjebak orang kedalam keadaan susah yang kadang memaksa siapapun melakukan tindakan yang buruk. dan hutang salah satu sebabnya diakibatkan perilaku BOROS. Islam membenci keduanya karena keduanya menjauhkan insan dari TENANG dan BAHAGIA. Bahkan bisa merampas ke khusukan beribadah. Inilah yang menyebabkan jika seseorang TERBEBAS DARI HUTANG DAN BOROS maka ia memiliki salah satu Sumber KEbahagiaan dan ketenangan...