Big Think, Love & Success!!

.

Di Yogyakarta aku Tinggal

Kota Yogyakarta, kota pusat pendidikan di pulau jawa bagian tengah. Menyimpan berjuta kenangan bagi siapapun yang pernah belajar disini...

Berjuta Pesona

Yogyakarta dan pesona nya memikat mata warga dunia. Sudah siapkah menjadi bagiannya?...

Kendalikan Kecepatanmu

Persiapkan diri untuk melaju ikuti perkembangan dunia..

Harmoni dan Kesembangan

Hidup seimbang ciptakan harmonisasi diri..

Keindahan

Keindahan itu adalah impian setiap insan....Keindahan Hidup dalam menuju keabadian

Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Agustus 2012

Panduan Singkat I'Tikaf Ramadhan

Oleh. Ari Wahyono, S.Pd.T, CHt, CNLP
Larut dalam Sujud : I'tikaf


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Ada suatu amalan di bulan Ramadhan yang mesti kita ketahui bersama demi meraih banyak pahala di bulan tersebut. Amalan tersebut adalah i'tikaf. Bagaimanakah tuntunan Islam dalam menjalankan i'tikaf  di bulan Ramadhan? Berikut panduan ringkas yang semoga bermanfaat bagi para pengunjung rumaysho.com sekalian. Semoga Allah senantiasa memberkahi.
I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.[1]

Dalil Disyari’atkannya I’tikaf
Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”[2]
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa beri'tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri'tikaf selama dua puluh hari”.[3]
Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri'tikaf setelah kepergian beliau.”[4]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.[5]
I’tikaf Harus Dilakukan di Masjid
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri'tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di masjid.”[6] Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di masjid.[7]
I’tikaf Boleh Dilakukan di Masjid Mana Saja
Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri'tikaf dalam masjid”. [8]
Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya, “I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramdhan dan i’tikaf di seluruh masjid.” Ibnu Hajar menyatakan, “Ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 187) menyebutkan disyaratkannya masjid, tanpa dikhususkan masjid tertentu”[9].[10]
Para ulama selanjutnya berselisih pendapat masjid apakah yang dimaksud. Apakah masjid biasa di mana dijalankan shalat jama’ah lima waktu[11] ataukah masjid jaami’ yang diadakan juga shalat jum’at di sana?
Imam Malik mengatakan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan shalat lima waktu di sana, pen) karena keumuman firman Allah Ta’ala,
وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
sedang kamu beri'tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i rahimahullah menambahkan syarat, yaitu masjid tersebut diadakan juga shalat Jum’at.[12] Tujuannya di sini adalah agar ketika pelaksanaan shalat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.
Kenapa disyaratkan di masjid yang ditegakkan shalat jama’ah? Ibnu Qudamah katakan, “Shalat jama’ah itu wajib (bagi laki-laki). Jika seorang laki-laki yang hendak melaksanakan i’tikaf tidak berdiam di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah, maka bisa terjadi dua dampak negatif: (1) meninggalkan shalat jama’ah yang hukumnya wajib, dan (2) terus menerus keluar dari tempat i’tikaf padahal seperti ini bisa saja dihindari. Jika semacam ini yang terjadi, maka ini sama saja tidak i’tikaf. Padahal maksud i’tikaf adalah untuk menetap dalam rangka melaksanakan ibadah pada Allah.”[13]
Wanita Boleh Beri’tikaf
Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf.  ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ - قَالَ - فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa beri'tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i'tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa'id) berkata: Kemudian 'Aisyah radhiyallahu 'anha meminta izin untuk bisa beri'tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”[14]
Dari ‘Aisyah, ia berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri'tikaf setelah kepergian beliau.”[15]
Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian.[16]
Lama Waktu Berdiam di Masjid
Para ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak ada batasan waktu maksimalnya. Namun mereka berselisih pendapat berapa waktu minimal untuk dikatakan sudah beri’tikaf. [17]
Bagi ulama yang mensyaratkan i’tikaf harus disertai dengan puasa, maka waktu minimalnya adalah sehari. Ulama lainnya mengatakan dibolehkan kurang dari sehari, namun tetap disyaratkan puasa. Imam Malik mensyaratkan minimal sepuluh hari. Imam Malik  juga memiliki pendapat lainnya, minimal satu atau dua hari. Sedangkan bagi ulama yang tidak mensyaratkan puasa, maka waktu minimal dikatakan telah beri’tikaf adalah selama ia sudah berdiam di masjid dan di sini tanpa dipersyaratkan harus duduk.[18]
Yang tepat dalam masalah ini, i’tikaf tidak dipersyaratkan untuk puasa, hanya disunnahkan[19]. Menurut mayoritas ulama, i’tikaf tidak ada batasan waktu minimalnya, artinya boleh cuma sesaat di malam atau di siang hari.[20] Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak[21] adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”[22]
Yang Membatalkan I’tikaf
  1. Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak.
  2. Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim)[23].
Yang Dibolehkan Ketika I’tikaf
  1. Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.
  2. Melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain.
  3. Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.
  4. Mandi dan berwudhu di masjid.
  5. Membawa kasur untuk tidur di masjid.
Mulai Masuk dan Keluar Masjid
Jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ - قَالَ - فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa beri'tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i'tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa'id) berkata: Kemudian 'Aisyah radhiyallahu 'anha meminta izin untuk bisa beri'tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”[24]
Namun para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.
Impianku : I'Tikaf di 1434 H

Adab I’tikaf
Hendaknya ketika beri’tikaf, seseorang menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.[25]
Semoga panduan singkat ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan membuahkan amalan tentunya.
Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Cuplikan dari Buku Panduan Ramadhan


[1] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/1699.
[2] Al Mughni, 4/456.
[3] HR. Bukhari no. 2044.
[4] HR. Bukhari no. 2026 dan  Muslim no. 1172.
[5] Latho-if Al Ma’arif, hal. 338
[6] Fathul Bari, 4/271.
[7] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13775.
[8] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151.
[9] Fathul Bari, 4/271.
[10] Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”; perlu diketahui, hadits ini masih diperselisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat). (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151). Jika melihat perkataan Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah, beliau lebih memilih bahwa hadits tersebut hanyalah perkataan Hudzaifah ibnul Yaman. Lihat Fathul Bari, 4/272.
[11] Walaupun namanya beraneka ragam di tempat kita, baik dengan sebutan masjid, musholla, langgar, maka itu dinamakan masjid menurut istilah para ulama selama diadakan shalat jama’ah lima waktu di sana untuk kaum muslimin. Ini berarti jika itu musholla rumahan yang bukan tempat ditegakkan shalat lima waktu bagi kaum muslimin lainnya, maka ini tidak masuk dalam istilah masjid. Sedangkan dinamakan masjid Jaami’ jika ditegakkan shalat Jum’at di sana. Lihat penjelasan tentang masjid di Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13754.
[12] Lihat Al Mughni, 4/462.
[13] Al Mugni, 4/461.
[14] HR. Bukhari no. 2041.
[15] HR. Bukhari no. 2026 dan  Muslim no. 1172.
[16] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151-152.
[17] Lihat Fathul Bari, 4/272.
[18] Idem.
[19] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/153.
[20] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/154.
[21] I’tikaf mutlak, maksudnya adalah i’tikaf tanpa disebutkan syarat berapa lama.
[22] Al Inshof, 6/17.
[23] Fathul Bari, 4/272.
[24] HR. Bukhari no. 2041.
[25] Lihat pembahasan I’tikaf di Shahih Fiqh Sunnah, 2/150-158.

Sabtu, 05 Mei 2012

Sekali lagi tentang SYUKUR

Oleh. Ari Wahyono

Bersyukur ...

Saya yakin siapapun yang melihat dan membaca tulisan ini maka ia masih memiliki nikmat dan kekayaan yang tak terbeli:

1. Nafas
Penuh Syukuri Nafas kita...
Berapa trilliun kalau kita harus membiayai oksigen yang kita hirup hingga usia 60tahun atau bahkan lebih. Allah SWT Sang Maha Pemberi tak pernah mengusik pemberianNYa.







2. Detak Jantung
Masih mau menghitung?, biaya berapa yang sanggup anda keluarkan untuk menyewa jantung itu untuk memperpanjang hidup anda hidup kita??. Tentu kita tak kan sanggup membayarnya.
Jantung











3. Mata
Tulisan-tulisan ini takkan bisa langsung anda nikmati jika anda tak mampu melihatnya secara langsung. Kalau tidak tentu butuh mata lain yang melihat kemudian baru pemiliknya menceritakan kepada anda isi tulisan ini.

Temanku,
Kita saat ini memiliki modal milyaran rupiah nilainya dalam diri dan sekitar kita...

Temanku,
Mari kita hentikan menggugat anugerah Tuhan Allah SWT atas semua keputusan dan pemberianNya,
Sering kita bergumam : "Yah, cuman sedikit"..."CElaka, cuman sedikit"..."Aduuuh payah, aku gagal lagi"
dan segenap gugatan yang menyebabkan kita makin  dekat kepada adzab....
dan adzab bagi orang yang tak bersyukur itu Allah Sampaikan dalam QS Ibrahim ayat 7 : "amat pedih"

Temanku,
Mari syukuri kehidupan kita dan segala pemberianNya
Tersenyum dan katakan kepada dunia,
Aku memiliki yang terbaik dari Robbku....
Sambut hari bahagiamu,
Syukur dalam doa ..















Selamat beribadah penuh syukur....

Jumat, 06 April 2012

Musik Bantu Tingkatkan Kecerdasan

 Diposting : Ari Wahyono
Anak anak amat peka terhadap musik

Bagi sebagian orang tua ada menganggap bahwa musik itu bisa mengganggu proses belajar anak. Apalagi jika Sang Anak lebih senang menghafal lagu-lagu yang mereka dengarkan ketimbang harus menghafal rumus-rumus fisika. Tetapi taukah Anda ternyata musik justru mampu meningkatkan daya ingat?

Sebuah penelitian menyebutkan, musik mampu anak memberikan keuntungan dalam proses pembelajaran anak. Dalam beberapa penelitian yang dilakukan para ahli, terungkap musik juga bisa menjadi terapi meningkatkan daya ingat yang efektif.

Studi yang dilakukan Laurel Trainor, Profesor Psikologi, ilmu syaraf dan perilaku dari McMaster University, Hamilton, Ontario membuktikan, setelah setahun belajar musik, seorang anak akan meraih nilai lebih baik dalam tes daya ingat dibanding sesamanya yang tidak belajar musik. Tidak heran jika di sekolah-sekolah modern di Amerika dan Eropa, musik digunakan untuk meningkatkan prestasi akademik siswa.

Sedangkan di pusat rehabilitasi, terapi musik banyak digunakan untuk menangani masalah kepikunan dan kehilangan ingatan. Hal ini bisa terjadi karena bagian otak yang memproses musik terletak berdekatan dengan memori. Sehingga ketika seseorang melatih otak dengan terapi musik, maka secara otomatis memorinya juga ikut terlatih.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Dr Felicity Baker, dosen senior dari Universitas Queensland (UQ) Sekolah Musik mengungkapkan, musik bahkan dapat membuktikan diri sebagai penyelamat bagi penderita demensia yang kehilangan kemampuan untuk berinteraksi dengan pasangan karena hilang ingatan.

Penelitian Institut Musik dan Fungsi Neurologi di AS juga telah membuktikan, bahwa jenis terapi musik sangat bermanfaat bagi para penderita alzheimer untuk tetap tenang dan membantu meningkatkan ingatan mereka. Bahkan di sebuah rumah sakit di Chicago, terapi musik digunakan untuk menenangkan kegelisahan orang tua akibat kenakalan anaknya.

Ini disebabkan musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu karena musik bersifat nyaman, menenangkan, membuat rileks, berstruktur, dan universal. Sebagaimana sebuah musik, proses kehidupan kita sejatinya juga memiliki irama. Sebagai contoh, nafas kita, detak jantung, dan pulsasi semuanya berulang dan berirama.
Semoga bermanfaat !!!

Rabu, 01 Februari 2012

Key For Your Succes

Alih Bahasa: Ari Wahyono, S.Pd.T, Cht, C.NLP
Jadilah bintang !!

Kita pernah bukan merasakan bagaimana ketika sesuatu yang kita inginkan sebenarnya nampak nyata. Namun begitu hendak kita raih ternyata tak semudah yang kita bayangkan. Sebelum melangkah cobalah tuliskan dan lakukan self dialog (dialog dengan diri sendiri). Kemudian Tuliskan dalam lembar yang mungkin bisa kita baca kapanpun. 
Silahkan siapkan pena ....berikut adalah rincian itu.

Keys to an achievable outcome 
Kunci untuk mendapatkan suatu capaian (hasil)

1. Stated in the positive. What specifically do you want?
 
Nyatakan pernyataan tersebut dalam bentuk dan makna positif. Apa yang benar-benar anda inginkan?

2. Specify present situation. Where are you now? (Associated)
 
Tentukan situasi sekarang. Di mana Anda sekarang? (Associated)

3. Specify outcome. What will you see, hear, feel, etc., when you have it? As if now. Make it compelling. Insert in the future. Be sure the picture is disassociated.
Tentukan hasil. Apa yang akan Anda lihat, mendengar, merasakan, dll, ketika Anda memilikinya? Seolah-olah sekarang. Buatlah menarik. Masukkan di masa depan. Pastikan gambar yang memisahkan.

4. Specify evidence procedure. How will you know when you have it?

 Tentukan  prosedur ukurannya. Bagaimana Anda tahu ketika Anda memilikinya?

5. Is it congruently desirable?  
Apakah sudah kongruen dengan yang diinginkan?
What will the outcome get for you or allow you to do?
Apa yang akan mendapatkan hasil untuk Anda atau memungkinkan Anda untuk melakukan?

6. Is it self-initiated and self-maintained?
Is it only for you?
 
Apakah yang diprakarsai sendiri dan self-dipertahankan?
Apakah hanya untuk Anda?


7. Is it appropriately contextualized?  
Apakah tepat dikontekstualisasikan?
 

8. What resources are needed? 
Sumber daya apa yang dibutuhkan?


What do you have now, and what do you need to get your outcome? 
Apa yang Anda miliki sekarang, dan apa yang Anda butuhkan untuk mendapatkan hasil Anda?

Have you ever had or done this before?  
 Apakah Anda pernah memiliki atau melakukan hal ini sebelumnya?

Where, when, how, and with whom do you want it?
Dimana, kapan, bagaimana, dan dengan siapa yang Anda inginkan itu?


Do you know anyone who has?  
Apakah Anda tahu siapa yang memiliki?
 


Can you act as if you have it? 
 Dapatkah Anda bertindak seolah-olah Anda memilikinya?
 


Is it ecological?  
Apakah ekologi?
 


For what purpose do you want this? 
 Untuk tujuan apa Anda menginginkan ini?
 


What will you gain or lose if you have it? 
 Apa yang akan Anda mendapatkan atau kehilangan jika Anda memilikinya?
 


What will happen if you get it? 
 Apa yang akan terjadi jika Anda mendapatkannya?
 


What won't happen if you get it? 
 Apa yang tidak akan terjadi jika Anda mendapatkannya?


What will happen if you don't get it? 
 Apa yang akan terjadi jika Anda tidak mendapatkannya? 


What won't happen if you don't get it? 
Apa yang tidak akan terjadi jika Anda tidak mendapatkannya?

Setelah semua terjawab, cobalah mereview kembali. Selamat mencoba.

sumber : http://www.healthsurvey.com

Jumat, 11 November 2011

Latihan KONSENTRASI (1)

Oleh. Ari Wahyono

Ada beberapa model latihan yang akan membuat kita mudah IN (konsentrasi dalam waktu singkat).
konsentrasi

Berikut latihannya:
1. Kuatkan rasa ketika akan melakukan sesuatu.
Ketika kita akan mengambil air minum di ruang makan. Maka segera bayangkan ruangannya, bayangkan posisi gelas dan dispensernya, kemudian bayangkan anda sudah memegang gelas berisi air minum itu. Selama berjalan jangan 'tergoda' apapun lintasan fikiran anda.

2. Perjelas Peta situasi di fikiran kita.
Saat kita akan meminjam buku dengan judul yang kita ketahui (sudah di tulis), kita akan mengalami gangguan konsentrasi hingga buku itu sampai di meja kerja atau meja belajar kita.Ketemu teman, ketemu buku lain yang judulnya bikin penasaran dan seterusnya. Kita tergoda maka makin lama tugas itu selesai.
Cara latihan kedua adalah dengan mencoba imainasi dan merasakan seolah tengah memegang buku itu, rasakan seolah tugas itu mudah dan selesai begitu saja. Dalam perjalanan, ingatlah dan sesekali boleh anda sebut judul bukunya.

3. Asosiasikan dan indentifikasi rasa kuatnya.
Saat kita mengisi potongan waktu, ancaman terbesar kita adalah mengerjakan hanya apa yang tidak perlu dikerjakan saja. Asosiasikan buku bacaan dengan kemudahan, asosiasikan air minum dengan nikmatnya minum saat haus di tengah gurun panas. Saat kita melakukan ini HASRAT kita akan meningkat. Dengannya kita akan berapi-api menuju tujuan kita dengan KONSENTRASI secara alami.

Cobalah terapkan 3 jurus pertama ini, ingat anda yang bertanggung jawab atas perubahan ini. Jika anda tak bersungguh-sungguh anda takkan hasilkan apapun. Nantikan jurus latihan berikutnya. Salam Cahaya!!

Rabu, 24 Agustus 2011

Kita Memerlukan : Jeda

Oleh. Ari Wahyono

Ramadhan kali ini mungkin terasa berbeda bagi yang menyadari. Zaman makin tua. Dan Kota makin tak ramah memperlakukan manusia. Banyak insan tak sempat berkeluh kesah dan mencurahkan keletihannya bertahan hidup di kerasnya kehidupan kota. Bahkan di bulan ramadhan mereka hampir 24 jam menghidupkan kota.
istirahatlah...

Jeda...
Kita baru menyadari ternyata Allah SWT mengajarkan kepada kita untuk ada waktu khusus mengatur diri dan mengumpulkan potensi kita. Kita telah diajari dalam sehari untuk jeda jeda khusus.
Mari kita baca ayat kauniyah ni:
dalam 24 jam Allah perintahkan sholat 5 waktu
dalam sepekan atau 7 hari ada hari jumat
dalam etahun ada sebulan bulan romadhan
dalam sebulan ada ayumul bidh 3 hari puasa tengah bulan
ini pelajaran yang bisa kita ambil...

Tiap perjalanan melelahkan dalam menjalani kehidupan ini Allah SWt siapkan peristirahatannya dimana waktu itu untuk mendekatkan diri kita kepadaNya.

dan JEda ini sungguh ber ENERGI bagi kita baik jasad dan maknawi (ruhiyah) .